Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengungkap Tabir Kertosono Sebagai Jalur Perdagangan era Kolonial: dari Dermaga hingga Jembatan Brantas

Kondisi Jembatan Lama Kertosono. Lokasi ini dulunya merupakan salah satu jalur perdagangan air dan menjadi tempat berlabuh kapal dan perahu yang mengangkut berbagai komoditas hingga awal abad ke-20

Oleh: Usman Hadi, S.Hum*

Anggota TACB Kabupaten Nganjuk

Nganjuknews.com – Wilayah Kertosono, pada masa pemerintah Hindia Belanda, merupakan salah satu jalur perdagangan vital. Sungai Brantas yang berada tepat di timur Kertosono, menjadi tempat berlabuh kapal dan perahu sejenis pirogue yang mengangkut beraneka ragam bahan komoditas, yang kemudian didistribusikan ke berbagai daerah di pulau Jawa, terutama di Jawa Timur.

Kapal dan perahu sejenis pirogue yang berlabuh di Kertosono tidak hanya berasal dari daerah sekitar, namun juga dari daerah-daerah lainnya, bahkan ada dari luar pulau Jawa. Kapal yang mengangkut komoditas itu di antaranya berasal dari Surabaya, Gersik, pulau Madura, Solo, bahkan juga dari  pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa. Tak tanggung-tanggung, jumlah kapal yang berlabuh di Kertosono ketika itu diyakini mencapai ratusan.

Kertosono, yang menjadi sentra perdagangan air di Sungai Brantas, ini eksis hingga abad ke-19. Sebelum tahun 1864, masih banyak kapal-kapal besar yang singgah di wilayah ini.

Akan tetapi, letusan Gunung Kelud yang terjadi pada 3-4 Januari 1864 tidak hanya mengakibatkan ribuan rumah mengalami kerusakan, bencana alam tersebut juga mengakibatkan terjadinya pendangkalan Sungai Brantas. Pendangkalan ini terjadi imbas aliran lumpur, batu, pasir, dan air, serta material lainnya yang berasal dari letusan Gunung Kelud terbawa ke hilir.

Berbagai material itu terbawa oleh air hujan yang membasahi material vulkanik yang terakumulasi di lereng Gunung Kelud. Material tersebut kemudian mengalir ke arah hilir bersama dengan air hujan. Selanjutnya, aktivitas vulkanik yang terjadi di Gunung Kelud pada tahun 1875 semakin memperparah pendangkalan Sungai Brantas.

Selepas insiden letusan Gunung Kelud pada tahun 1864 dan 1875 tersebut, Sungai Brantas, utamanya yang berada di timur Kertosono, masih bisa dilalui oleh perahu pengangkut komoditas, namun perahu atau pirogue yang berlabuh di Kertosono ini bertonase kecil. Artinya, ketika itu kapal-kapal besar sudah tak lagi singgah di Kertosono.

Pendangkalan Sungai Brantas ini kian hari kian menjadi-jadi. Penyebabnya sama, yakni karena adanya letusan di Gunung Kelud, yang kemudian membawa berbagai material ke wilayah hilir, sehingga mempercepat proses pendangkalan. Letusan Gunung Kelud yang terjadi pada tahun 1910 dan 1919 turut mempercepat proses pendangkalan tersebut.

Imbasnya, pascatahun 1919 dilaporkan sudah tidak dijumpai lagi perahu-perahu kecil yang berlayar dan berlabuh di Kertosono. Selain itu, pendangkalan yang terjadi di Sungai Brantas inilah yang di kemudian hari ditengarai menjadi penyebab bencana banjir di sekitar Kali Brantas, dengan insiden banjir yang paling parah dilaporkan terjadi pada tahun 1934.

Laporan yang merekam aktivitas niaga di Kertosono, dan proses pendangkalan Sungai Brantas yang menjadikan kegiatan niaga air ini berhenti, di antaranya ialah Surat Kabar Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië dan De Locomotief, yang sama-sama terbit pada 3 Maret 1938, dengan artikel berjudul Geen Handelsplaats Geworden, yang kurang lebih berarti “Tidak Menjadi Tempat Perdagangan”.

Tampaknya, kedua artikel tersebut sengaja diberi judul demikian untuk menggambarkan perubahan Kertosono, yang awalnya merupakan pusat niaga air, dengan banyak kapal dan perahu sejenis pirogue yang berlabuh di Kertosono, tapi selepas terjadi pendangkalan Sungai Brantas secara masif aktivitas perdagangan niaga itu berhenti, mandek. Imbasnya, Kertosono pun tidak menjadi tempat perdagangan air yang ramai seperti masa dahulu.

Sekadar diketahui, Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië merupakan sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang diterbitkan di Semarang, Hindia Belanda, dari 1924 sampai 1942. Sementara De Locomotief adalah koran pertama yang terbit di Semarang, Hindia Belanda, pada 1851 dan terakhir terbit pada 1956.

Dari Jembatan Kereta Api ke Jembatan Penyeberangan

Sebuah artikel yang terbit di Surat Kabar Bataviaasch Nieuwsblad pada 16 Juli 1917 menjelaskan bahwa pemerintah, dalam hal ini pemerintah kolonial Hindia Belanda, mengeluarkan dana sebesar 50.000 gulden untuk membangun Jembatan Kereta Api di atas Sungai Brantas wilayah Kertosono. Tak hanya berfungsi sebagai jembatan kereta api, jembatan itu juga kerap dipakai warga lokal sebagai jembatan penyeberangan orang, terutama bagi para pejalan kaki.

Bataviaasch Nieuwsblad merupakan surat kabar di Hindia Belanda yang berkantor pusat di Batavia. Surat kabar ini terbit sejak tahun 1885 hingga 1957.

Belum diketahui secara pasti pada tahun berapa Jembatan Kereta Api di atas Sungai Brantas wilayah Kertosono mulai dibangun, apakah mulai tahun 1917 atau sudah sejak tahun-tahun sebelumnya. Namun yang pasti, merujuk laporan tersebut dapat disimpulkan bahwa telah ada Jembatan Kereta Api di atas Sungai Brantas wilayah Kertosono pada tahun itu.

Pada laporan itu juga dijelaskan bahwa pembangunan jembatan penyeberangan yang lebih representatif sangat dibutuhkan, apalagi dengan semakin banyaknya mobil pada masa itu. Pembangunan jembatan juga dibutuhkan untuk memperlancar pendistribusian logistik baik dari barat maupun timur Sungai Brantas, dari wilayah Kertosono menuju Jombang maupun Kediri dan sebaliknya.

Sebelum dibangun jembatan, mobilitas orang maupun barang dari Kertosono menuju wilayah timur Sungai Brantas diangkut menggunakan veerpont atau kapal feri. Akan tetapi kapal penyeberangan ini tidaklah sepenuhnya aman, terutama ketika arus air di Sungai Brantas tengah deras-derasnya, hal itu tentu sangat membahayakan dan mengancam keselamatan para penumpang.

Sementara jika tidak menggunakan veerpont di Kertosono, maka mereka yang dari wilayah Nganjuk hendak menuju Pare, Kediri, dan dari arah sebaliknya, harus memutar jalan yang cukup jauh. Kondisi itu tentu menyulitkan, apalagi bagi mereka yang hendak berobat ke rumah sakit.

Memang ketika itu masyarakat Kertosono dan sekitarnya sudah sering memanfaatkan Jembatan Kereta Api di atas Sungai Brantas wilayah Kertosono sebagai tempat penyeberangan, terutama bagi para pejalan kaki. Tapi kelalaian sedikit saja, pejalan kaki tersebut dapat mengalami kecelakaan fatal yang dapat membahayakan keselamatan mereka. Kondisi itu lah yang menjadi pertimbangan untuk segera dibangun jembatan yang lebih representatif, jembatan penyeberangan besar yang dapat dilalui mobil maupun pejalan kaki, sehingga dapat memperlancar mobilitas masyarakat di timur dan barat Sungai Brantas.

De Locomotief dalam laporannya yang diterbitkan pada 17 Mei 1920 melaporkan bahwa pemerintah kolonial telah menyetujui pembangunan jembatan tetap, dengan biaya yang diperkirakan mencapai f409000. Lokasi jembatan tetap ini berada di selatan jembatan kereta api. Penulis meyakini bahwa jembatan yang dibangun ini ialah Jembatan Lama Kertosono yang saat ini kita kenal. Pembangunan jembatan ini diharapkan dapat memudahkan mobilitas warga yang berasal dari arah Nganjuk maupun Madiun menuju Jombang dan Surabaya, pun sebaliknya.

Pada laporan De Locomotief ditulis “Men het verzamelen van materialen voor die ophooging is bereids begonnen; gehoopt wordt dat de brug in 1921 in gebruik kan worden gesteld”, yang kurang lebih dapat disimpulkan bahwa pembangunan Jembatan Lama Kertosono telah dimulai pada tahun 1920, dibuktikan dengan mulai dikumpulkannya material pembangunan jembatan. Selanjutnya, jembatan tersebut diharapkan dapat difungsikan pada tahun 1921.

Dalam perkembangannya, ternyata pembangunan Jembatan Lama Kertosono molor, tidak sesuai harapan awal. Merujuk laporan Surat Kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië yang terbit pada 7 Maret 1925, dijelaskan bahwa jembatan ini sudah bisa dilalui pada tahun 1924. Merujuk keterangan tersebut, penulis meyakini bahwa pembangunan Jembatan Lama Kertosono baru sepenuhnya kelar dan bisa dilalui masyarakat pada tahun 1924.

Tapi agak-agaknya keberadaan Jembatan Lama Kertosono ini belum bisa sepenuhnya mengembalikan gairah perdagangan di Kertosono, yang mana hingga abad ke-19 Kertosono merupakan pusat niaga air dan menjadi dermaga atau tempat berlabuh bagi ratusan kapal dan perahu sejenis pirogue pengangkut beraneka ragam bahan komoditas.

Ware de Brantas bevaarbaar gebleven, dan zou Kertosono een andere toekomst hebben gehad (Seandainya Brantas tetap bisa dilayari, masa depan Kertosono akan berbeda).” tulis laporan Surat Kabar Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië dan De Locomotief, yang sama-sama terbit pada 3 Maret 1938. 

Ket: Esai ini sebelumnya telah terbit di Surat Kabar Koran Memo pada Selasa 5 November 2024.