Mengungkap Tabir Kertosono Sebagai Jalur Perdagangan era Kolonial: dari Dermaga hingga Jembatan Brantas
Oleh: Usman Hadi, S.Hum*
Anggota
TACB Kabupaten Nganjuk
Nganjuknews.com – Wilayah Kertosono, pada masa pemerintah
Hindia Belanda, merupakan salah satu jalur perdagangan vital. Sungai Brantas
yang berada tepat di timur Kertosono, menjadi tempat berlabuh kapal dan perahu
sejenis pirogue yang mengangkut beraneka ragam bahan komoditas, yang kemudian
didistribusikan ke berbagai daerah di pulau Jawa, terutama di Jawa Timur.
Kapal dan perahu sejenis pirogue yang berlabuh di Kertosono
tidak hanya berasal dari daerah sekitar, namun juga dari daerah-daerah lainnya,
bahkan ada dari luar pulau Jawa. Kapal yang mengangkut komoditas itu di
antaranya berasal dari Surabaya, Gersik, pulau Madura, Solo, bahkan juga
dari pelabuhan-pelabuhan di pantai utara
Jawa. Tak tanggung-tanggung, jumlah kapal yang berlabuh di Kertosono ketika itu
diyakini mencapai ratusan.
Kertosono, yang menjadi sentra perdagangan air di Sungai
Brantas, ini eksis hingga abad ke-19. Sebelum tahun 1864, masih banyak
kapal-kapal besar yang singgah di wilayah ini.
Akan tetapi, letusan Gunung Kelud yang terjadi pada 3-4
Januari 1864 tidak hanya mengakibatkan ribuan rumah mengalami kerusakan,
bencana alam tersebut juga mengakibatkan terjadinya pendangkalan Sungai
Brantas. Pendangkalan ini terjadi imbas aliran lumpur, batu, pasir, dan air,
serta material lainnya yang berasal dari letusan Gunung Kelud terbawa ke hilir.
Berbagai material itu terbawa oleh air hujan yang membasahi
material vulkanik yang terakumulasi di lereng Gunung Kelud. Material tersebut
kemudian mengalir ke arah hilir bersama dengan air hujan. Selanjutnya,
aktivitas vulkanik yang terjadi di Gunung Kelud pada tahun 1875 semakin
memperparah pendangkalan Sungai Brantas.
Selepas insiden letusan Gunung Kelud pada tahun 1864 dan
1875 tersebut, Sungai Brantas, utamanya yang berada di timur Kertosono, masih
bisa dilalui oleh perahu pengangkut komoditas, namun perahu atau pirogue yang
berlabuh di Kertosono ini bertonase kecil. Artinya, ketika itu kapal-kapal
besar sudah tak lagi singgah di Kertosono.
Pendangkalan Sungai Brantas ini kian hari kian menjadi-jadi.
Penyebabnya sama, yakni karena adanya letusan di Gunung Kelud, yang kemudian
membawa berbagai material ke wilayah hilir, sehingga mempercepat proses
pendangkalan. Letusan Gunung Kelud yang terjadi pada tahun 1910 dan 1919 turut
mempercepat proses pendangkalan tersebut.
Imbasnya, pascatahun 1919 dilaporkan sudah tidak dijumpai
lagi perahu-perahu kecil yang berlayar dan berlabuh di Kertosono. Selain itu,
pendangkalan yang terjadi di Sungai Brantas inilah yang di kemudian hari
ditengarai menjadi penyebab bencana banjir di sekitar Kali Brantas, dengan insiden
banjir yang paling parah dilaporkan terjadi pada tahun 1934.
Laporan yang merekam aktivitas niaga di Kertosono, dan
proses pendangkalan Sungai Brantas yang menjadikan kegiatan niaga air ini
berhenti, di antaranya ialah Surat Kabar Algemeen handelsblad voor
Nederlandsch-Indië dan De Locomotief, yang sama-sama terbit pada 3 Maret 1938,
dengan artikel berjudul Geen
Handelsplaats Geworden, yang kurang lebih berarti “Tidak Menjadi Tempat
Perdagangan”.
Tampaknya, kedua artikel tersebut sengaja diberi judul
demikian untuk menggambarkan perubahan Kertosono, yang awalnya merupakan pusat
niaga air, dengan banyak kapal dan perahu sejenis pirogue yang berlabuh di
Kertosono, tapi selepas terjadi pendangkalan Sungai Brantas secara masif
aktivitas perdagangan niaga itu berhenti, mandek. Imbasnya, Kertosono pun tidak
menjadi tempat perdagangan air yang ramai seperti masa dahulu.
Sekadar diketahui, Algemeen handelsblad voor
Nederlandsch-Indië merupakan sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang
diterbitkan di Semarang, Hindia Belanda, dari 1924 sampai 1942. Sementara De
Locomotief adalah koran pertama yang terbit di Semarang, Hindia Belanda, pada
1851 dan terakhir terbit pada 1956.
Dari Jembatan Kereta Api ke Jembatan
Penyeberangan
Sebuah artikel yang terbit di Surat Kabar Bataviaasch
Nieuwsblad pada 16 Juli 1917 menjelaskan bahwa pemerintah, dalam hal ini
pemerintah kolonial Hindia Belanda, mengeluarkan dana sebesar 50.000 gulden
untuk membangun Jembatan Kereta Api di atas Sungai Brantas wilayah Kertosono.
Tak hanya berfungsi sebagai jembatan kereta api, jembatan itu juga kerap
dipakai warga lokal sebagai jembatan penyeberangan orang, terutama bagi para
pejalan kaki.
Bataviaasch Nieuwsblad merupakan surat kabar di Hindia
Belanda yang berkantor pusat di Batavia. Surat kabar ini terbit sejak tahun
1885 hingga 1957.
Belum diketahui secara pasti pada tahun berapa Jembatan
Kereta Api di atas Sungai Brantas wilayah Kertosono mulai dibangun, apakah
mulai tahun 1917 atau sudah sejak tahun-tahun sebelumnya. Namun yang pasti, merujuk
laporan tersebut dapat disimpulkan bahwa telah ada Jembatan Kereta Api di atas
Sungai Brantas wilayah Kertosono pada tahun itu.
Pada laporan itu juga dijelaskan bahwa pembangunan jembatan
penyeberangan yang lebih representatif sangat dibutuhkan, apalagi dengan
semakin banyaknya mobil pada masa itu. Pembangunan jembatan juga dibutuhkan
untuk memperlancar pendistribusian logistik baik dari barat maupun timur Sungai
Brantas, dari wilayah Kertosono menuju Jombang maupun Kediri dan sebaliknya.
Sebelum dibangun jembatan, mobilitas orang maupun barang
dari Kertosono menuju wilayah timur Sungai Brantas diangkut menggunakan
veerpont atau kapal feri. Akan tetapi kapal penyeberangan ini tidaklah
sepenuhnya aman, terutama ketika arus air di Sungai Brantas tengah deras-derasnya,
hal itu tentu sangat membahayakan dan mengancam keselamatan para penumpang.
Sementara jika tidak menggunakan veerpont di Kertosono, maka
mereka yang dari wilayah Nganjuk hendak menuju Pare, Kediri, dan dari arah
sebaliknya, harus memutar jalan yang cukup jauh. Kondisi itu tentu menyulitkan,
apalagi bagi mereka yang hendak berobat ke rumah sakit.
Memang ketika itu masyarakat Kertosono dan sekitarnya sudah
sering memanfaatkan Jembatan Kereta Api di atas Sungai Brantas wilayah
Kertosono sebagai tempat penyeberangan, terutama bagi para pejalan kaki. Tapi
kelalaian sedikit saja, pejalan kaki tersebut dapat mengalami kecelakaan fatal
yang dapat membahayakan keselamatan mereka. Kondisi itu lah yang menjadi
pertimbangan untuk segera dibangun jembatan yang lebih representatif, jembatan
penyeberangan besar yang dapat dilalui mobil maupun pejalan kaki, sehingga
dapat memperlancar mobilitas masyarakat di timur dan barat Sungai Brantas.
De Locomotief dalam laporannya yang diterbitkan pada 17 Mei
1920 melaporkan bahwa pemerintah kolonial telah menyetujui pembangunan jembatan
tetap, dengan biaya yang diperkirakan mencapai f409000. Lokasi jembatan tetap ini berada di selatan jembatan
kereta api. Penulis meyakini bahwa jembatan yang dibangun ini ialah Jembatan
Lama Kertosono yang saat ini kita kenal. Pembangunan jembatan ini diharapkan
dapat memudahkan mobilitas warga yang berasal dari arah Nganjuk maupun Madiun
menuju Jombang dan Surabaya, pun sebaliknya.
Pada laporan De Locomotief ditulis “Men het verzamelen van materialen voor die ophooging is bereids
begonnen; gehoopt wordt dat de brug in 1921 in gebruik kan worden gesteld”, yang
kurang lebih dapat disimpulkan bahwa pembangunan Jembatan Lama Kertosono telah
dimulai pada tahun 1920, dibuktikan dengan mulai dikumpulkannya material
pembangunan jembatan. Selanjutnya, jembatan tersebut diharapkan dapat
difungsikan pada tahun 1921.
Dalam perkembangannya, ternyata pembangunan Jembatan Lama
Kertosono molor, tidak sesuai harapan awal. Merujuk laporan Surat Kabar Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië yang terbit pada 7 Maret 1925,
dijelaskan bahwa jembatan ini sudah bisa dilalui pada tahun 1924. Merujuk
keterangan tersebut, penulis meyakini bahwa pembangunan Jembatan Lama Kertosono
baru sepenuhnya kelar dan bisa dilalui masyarakat pada tahun 1924.
Tapi agak-agaknya keberadaan Jembatan Lama Kertosono ini
belum bisa sepenuhnya mengembalikan gairah perdagangan di Kertosono, yang mana
hingga abad ke-19 Kertosono merupakan pusat niaga air dan menjadi dermaga atau
tempat berlabuh bagi ratusan kapal dan perahu sejenis pirogue pengangkut
beraneka ragam bahan komoditas.
Ket: Esai ini sebelumnya telah terbit
di Surat Kabar Koran Memo pada Selasa 5 November 2024.